[ one shot — the boyz alternative universe ]

“15.30, barang clear,” begitulah pesan yang membuat Sunwoo segera melajukan mobilnya menuju pelabuhan bersama beberapa orangnya. Puluhan- tidak, tumpukan uang yang hampir mencapai angka seratus gepok itu dibawanya menuju segerombolan pria yang tengah duduk di sofa dekat pintu masuk. Bisa Sunwoo lihat mejanya penuh dengan gelas bekas minum, kotak taruhan, rokok juga asbak, dan kartu untuk memperebutkan taruhannya.

“Bang!” sapanya saat sudah dekat. Ia berikan tas itu pada lelaki dengan bandana di kepala. Beberapa menyebutnya Belati karena benda yang tak luput dibawanya ketika bekerja. “Bilang aja kalo kurang.”

Belati pun tersenyum. Ditimangnya tas itu kemudian berucap, “Kurang satu tas lagi kayaknya,” yang kemudian diketawai Sunwoo. Lelaki itu memberikan tas lain sebagai ganti barang yang dibelinya. “Jangan kaget ya kalo enteng, belakangan lagi naik. Yang di jalur biasa dipantau sampai akhir taun.”

Umpatan kecewa pun lolos dari mulut Sunwoo. “Yaudah deh, mau digimanain lagi. Tar gue coba cari tau, kali aja ada yang nemu jalur baru.” Diberikan tas itu pada Juyeon yang sedari tadi menyimak pembicaraan di belakang.

Belati pun mengajak untuk masuk sebentar ke yacht miliknya. Ia berjalan lebih dulu, kemudian diikuti Sunwoo dan Juyeon. Eric dibiarkan menikmati keseruan di meja judi.

“Ini info yang baru gue denger ya, lo tau Zero?”

“Duo unbeatable kayak mereka siapa yang gak kenal sih, Bang? Klien gue pernah dirampas sama mereka.”

“Belakangan karena susah dapetin garem, dia jadi nyari banyak cabang buat kliennya.”

“Bukannya dia punya pabriknya sendiri ya? Gue denger dia udah mau nemu resepnya.”